Senin, 01 Juni 2015

8 RAHASIA MAKANAN UNTUK KESEHATAN WANITA

1.  Apel untuk berat badan ideal
Kebanyakan wanita tidak percaya diri dengan berat badan yang berlebih. Apalagi untuk anda yang  baru saja melahirkan. Apel selain mengandung antiosidan untuk kekebalan tubuh ternyata mampu mempertahankan berat badan ideal anda karena pemanis yang terkandungnya masuk secara bertahap sehingga mengontrol nafsu makan anda.
2.  Biji gandum untuk pemulihan setelah melahirkan
Biji gandum utuh ternyata mampu membantu anda untuk memulihkan keadaan tubuh setelah melahirkan, selain itu gejala PMS dapat diredakan dengan mengkonsumsi biji gandum sebelum menstruasi. Vitamin B6 dan asam folat merupakan nutrisi yang baik untuk kesehatan jantung anda.
3.  Tomat untuk kecantikan wajah
Masalah pada wajah bagi wanita adalah hal yang sangat menakutkan tak jarang wanita rela mengeluarkan banyak uang untuk merawat wajahnya. Dengan tomat yang mengandung vitamin A dan C yang mampu membersihkan wajah anda dari jerawat, selain itu tomat juga mampu mengatasi minyak di kulit wajah anda. Anda akan mendapat manfaat yang luar biasa dengan mengkonsumsi tomat secara teratur termasuk menghilangkan komedo dan membuat kulit wajah anda lebih bercahaya.
4.  Kenari (kacang) untuk reproduksi wanita
Sistem reproduksi merupakan hal yang sangat sensitif. Pada wanita, perubahan hormon, kelainan pada organ reproduksi, infeksi, penyakit, dan bahkan stres dapat menyebabkan kemandulan. Untuk meningkatkan kesuburan Anda, cobalah makanan yang kaya omega-3 asam lemak, seperti kenari. Tubuh menggunakan omega-3 asam lemak untuk memproduksi hormon yang disebut eikosanoid, yang meningkatkan aliran darah ke rahim, sehingga meningkatkan kemungkinan kehamilan dan memfasilitasi perkembangan janin. Omega-3 juga dapat menurunkan risiko kelahiran prematur dan berat lahir rendah.
5.  Susu untuk menjaga tulang
Susu merupakan sumber kalsium yang dibutuhkan wanita dalam menjaga mempertahankan tulang. Selain itu susu juga mengandung vitamin, mineral dan protein yang dapat membantu proses yang optimal dalam penyerapan nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang, sehingga anda terhindar dari osteoporosis. Kalsium juga dapat membantu anda dalam menjaga berat badan yang ideal. Adanya kandungan serat yang membantu melancarkan saluran pencernaan.
6.  Bayam untuk mencegah dari kanker
Kanker serviks dan kanker payudara adalah pembunuh dengan peringkat teratas bagi wanita. Dengan cara mengkonsumsi sayuran hijau yang mengandung antioksidan seprti bayam ternyata dapat meminimalisir radikal bebas yang memicu perkembangan sel kanker di dalam tubuh. Selain itu bayam juga zat antikanker di dalam bayam yaitu  flavonoid, akan memperlambat pembelahan sel kanker. Bayam sangat bagus untuk kekebalan tubuh anda juga untuk penglihatan dan tekanan darah.
7.  Coklat untuk menurunkan stress
Ketika perubahan mood berlangsung menjelang menstruasi, gejala PMS maka akan mengalami beberapa hal yang menggangu aktivitas anda sehingga menyebabkan stress. Kandungan theobromin yang terdapat pada coklat membantu mengaktifkan zat rasa senang dan mengatur zat stress sehingga mampu mengatasi gejala PMS. Coklat juga mampu mengurangi berat badan dan mencegah diabetes . Ternyata coklat juga dapat meningkatkan kecerdasan  dan menambah anda untuk berkonsentrasi, flavonol yang terdapat pada coklat hitam membuat kita lebih cerdas.
8.  Jeruk untuk ibu hamil
Kandungan senyawa yang terdapat pada jeruk sangat baik untuk ibu hamil. Kandungan vitamin c dapat membantu kekebalan tubuh ibu hamil, asam folat juga sangat dibutuhkan oleh bayi sehingga membantu membangun sel-sel baru. Adanya senyawa yang ternyata menjaga dinding pembuluh darah sehingga mengurangi peradangan selama kehamilan.

LAKTASI

Relaktasi dan Induksi Laktasi


Bayi menyusu pada ibu merupakan aktivitasnya dalam memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, yaitu ‘asah-asih asuh’. Dengan menyusu pada ibu, ia akan mendapat pemenuhan kebutuhan ‘asah’, yaitu stimulasi untuk perkembangan emosionalnya dalam berinteraksi dengan sesama, dalam hal ini terutama dengan ibunya. Jalinan kasih sayang akan terbangun antara bayi dan ibu sebagai manifestasi pemenuhan kebutuhan ‘asih’, dan zat-zat gizi yang terkandung dalam air susu ibu akan dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya sebagai pemenuhan kebutuhan ‘asuh’.
Kegiatan menyusui bagi ibu adalah salah satu aktivitas yang dapat memberi kepuasan lahir batin ibu, tetapi saat ia menyusui anaknya banyak sekali kendala yang akan ditemui seperti minimnya pengetahuan ibu dan ayah mengenai laktasi, tekanan dari keluarga dan sebagainya yang berakibat berkurangnya produksi air susu ibu, sehingga ibu gagal menyusui. Jika ibu tersebut memutuskan kembali menyusui anaknya setelah berhenti menyusui, tanpa melihat berapa lama laktasi terhenti, hal ini disebut dengan relaktasi atau kembali menyusui. Timbulnya keinginan ibu untuk kembali menyusui sering kali juga didasari karena pemberian susu formula yang tidak cocok, bayinya sakit bahkan sampai menjalani perawatan di RS ataupun keinginan karena melihat teman yang berhasil menyusui bayinya secara eksklusif. Bahkan pada situasi bencana melanda, relaktasi merupakan salah satu hal yang perlu mendapat dukungan dari semua instansi terkait dalam penanggulangan bencana.
Tidak semua wanita beruntung dapat hamil, melahirkan dan menyusui bayi. Berbagai macam hal dilakukan untuk mengatasi kegagalan dalam memiliki anak antara lain dengan adopsi anak yang akhirnya akan menimbulkan keinginan ibu untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar anak adopsinya, yaitu dengan menyusuinya. Hal ini kita kenal dengan istilah induksi laktasi.
Tentunya relaktasi dan induksi laktasi perlu kita dukung, bukan hanya dengan dukungan moril tetapi juga memberikan pengetahuan laktasi yang memadai. Makalah ini akan membicarakan mengenai hal-hal yang berkenaan dengan relaktasi dan induksi laktasi yang sekarang semakin menjadi tren di kalangan masyarakat.
Fisiologi laktasi yang terjadi pada relaktasi dan induksi laktasi
Telah kita ketahui proses laktasi akan melibatkan unsur hormonal di dalam tubuh manusia. Setelah memasuki usia kehamilan 16 minggu, wanita hamil tersebut sudah mulai memproduksi ASI, tetapi produksi ASI tidak berlanjut karena tertahan oleh kehamilannya. Ketika bayi lahir dan plasenta keluar, hormon yang mempengaruhi proses pembentukan ASI akan menjadi aktif, apalagi bila tindakan inisiasi menyusu dini (IMD) dilakukan.
Hisapan bayi akan mengirim sinyal ke otak ibu untuk mempengaruhi bagian otak yang disebut hipofisis. Hipofisis bagian depan akan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan masuk ke dalam aliran darah dan menimbulkan refleks prolaktin yang berperan dalam produksi ASI. Hipofisis bagian belakang akan mengeluarkan hormon oksitosin yang akan masuk ke dalam aliran darah dan menimbulkan refleks oksitosin untuk kontraksi otot yang ada di sekeliling saluran ASI, sehingga ASI yang sudah diproduksi akan dapat dikeluarkan.
Kelelahan maupun masalah-masalah psikologis pada ibu dapat menghambat kerja oksitosin seperti: kekhawatiran ibu bahwa ia tidak mampu menyusui atau merawat bayi, khawatir mengenai pekerjaannya, perselisihan dengan pasangan ataupun anggota keluarga yang lain. Sebaliknya rasa bahagia menjadi seorang ibu, senang dapat berdekatan dengan bayi, senang mengetahui suami ikut berpartisipasi dalam pengasuhan anak dan hal lain yang menyenangkan ibu akan memicu pengeluaran oksitosin.
Dengan demikian kita mengetahui bahwa hal yang utama untuk proses laktasi adalah stimulasi pada payudara, baik itu oleh hisapan bayi ataupun kegiatan memerah ASI, baik secara manual ataupun dengan bantuan alat. Jadi walaupun seorang wanita tidak mampu untuk hamil dan melahirkan, ia akan dapat memproduksi ASI karena ASI tidak diproduksi dari hormon yang berhubungan dengan proses reproduksi melainkan dari bagian otak yang bernama hipofisis.
Hisapan bayi merupakan hal yang terbaik untuk stimulasi payudara dalam memproduksi dan mengeluarkan ASI. Untuk dapat mengeluarkan ASI secara efektif, bayi harus dapat melekat dengan baik pada payudara. Bayi yang melekat dengan baik akan membuka mulut dengan lebar, dagu bayi akan menempel pada payudara ibu, sebagian besar areola terutama areola bagian bawah masuk ke dalam mulut bayi. Bibir bawah bayi tampak terpuntir keluar, bayi menghisap kuat dengan irama perlahan dan ibu merasa nyaman, tidak merasa perih pada puting payudaranya.
Pada bayi baru lahir pelekatan yang benar tergantung dari posisi bayi menyusu pada ibu. Posisi bayi menempel menghadap ibu, satu tangan bayi terletak di belakang badan ibu, telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. Kepala bayi terletak pada lengkung siku, menghadap payudara dan puting berada di depan muka bayi. Sangga bokong bayi dengan telapak tangan ibu, bila diperlukan gunakan bantal untuk menyangga tangan ibu. Bayi yang lebih besar, seringkali sudah memiliki posisi menyusu yang nyaman baik untuk bayi maupun ibunya.
Waktu yang dibutuhkan untuk ASI mulai berproduksi sangat bervariasi antara wanita, umumnya produksi ASI muncul setelah 1-6 minggu kemudian, rata-rata dalam 4 minggu. Beberapa wanita tidak pernah dapat memproduksi ASI dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan laktasi ataupun untuk mempertahankan pemberian ASI eksklusif, tetapi beberapa wanita mampu dalam beberapa hari mencapai jumlah yang cukup. Dalam penelitiannya Seema dkk. melaporkan keluarnya ASI antara 2-6 hari, dimana relaktasi sebagian tercapai dalam 4-28 hari dan relaktasi penuh tercapai antara 7-60 hari.
Kandungan ASI pada wanita yang melakukan relaktasi ataupun induksi laktasi tidak berbeda dibandingkan dengan wanita yang menyusui sejak kelahiran bayinya. Kleinman dkk. menemukan bahwa kolostrum tidak pernah diproduksi oleh wanita yang tidak pernah hamil, walaupun demikian jumlah total protein dan imunoglobulin adalah sama pada hari ke-5.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan relaktasi dan induksi laktasi
1. Hal yang berhubungan dengan bayi
Keberhasilan terletak pada hisapan bayi yang dipengaruhi oleh:
  • Keinginan bayi untuk menyusu. Keberhasilan relaktasi dan induksi laktasi akan terjadi bila bayi segera menyusu saat didekatkan pada payudara. Pada awalnya bayi memerlukan bantuan untuk dapat melekat dengan benar pada payudara. Salah satu penelitian relaktasi menemukan bahwa 74% bayi menolak untuk segera menyusu pada awal laktasi yang disebabkan karena bayi kesulitan melekat pada payudara dan memerlukan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih untuk mengatasinya. Penolakan pada awal laktasi bukan berarti bayi akan selalu menolak menyusu pada ibu, diperlukan kesabaran ibu untuk menghadapi hal ini.
  • Usia bayi. Akan lebih mudah melakukan relaktasi ataupun induksi laktasi pada bayi baru lahir sampai bayi berusia kurang dari 8 minggu. Walaupun demikian Thorley melaporkan keberhasilan relaktasi pada ibu-ibu dengan anak berusia lebih dari 12 bulan.
  • Lamanya waktu laktasi terhenti (breastfeeding gap). Umumnya relaktasi akan lebih mudah bila waktu terhentinya laktasi belum lama, tetapi Thorley melaporkan keberhasilan relaktasi pada anak berusia lebih dari 12 bulan yang sudah lama terhenti laktasinya.
  • Pengalaman makan bayi selama terhentinya laktasi. Seema melaporkan kesulitan mengajari bayi untuk menyusu bila bayi tersebut sudah terbiasa menggunakan botol susu. Penelitian Lang dkk. menemukan bayi dengan berat lahir rendah yang diberikan minum dengan cangkir pada fase transisi perubahan pemberian minum, akan lebih mudah menyusu pada ibu dibandingkan mereka yang mendapat minum dengan menggunakan botol susu.
  • Sudah mendapat makanan pendamping. Relaktasi dan induksi laktasi akan sulit dilakukan pada bayi yang sudah mendapat makanan pendamping. Dianjurkan untuk tidak mengenalkan makanan pendamping sebelum bayi berusia 6 bulan, kecuali saat bayi sudah berusia 4-5 bulan tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai dengan umur dan jenis kelamin bayi.
2. Hal yang berhubungan dengan ibu
Faktor tersebut adalah:
  • Motivasi ibu. Ibu mempunyai motivasi yang kuat karena mengetahui laktasi sangat penting dalam mendukung kesehatan bayi. Di Papua, ibu termotivasi untuk melakukan relaktasi ketika mengetahui bahayanya penggunaan susu formula. Keinginan ibu untuk mengeratkan hubungan batin dengan anak adopsinya juga menjadi salah satu dasar induksi laktasi.
  • Lamanya waktu dari berhentinya laktasi (lactation gap). Umumnya makin pendek waktu terhentinya laktasi, makin mudah ibu untuk melakukan relaktasi, namun Agarwal dan Jain melaporkan keberhasilan relaktasi dalam 2 minggu walaupun laktasi sudah terhenti selama 14 minggu.
  • Kondisi payudara ibu. Adanya infeksi atau luka pada payudara maupun bentuk puting yang terbenam menjadikan alasan ibu menghentikan laktasi. Setelah infeksi teratasi dan ibu mendapat bimbingan laktasi, motivasi ibu muncul untuk menyusui anaknya kembali.
  • Kemampuan ibu untuk berinteraksi dengan bayinya dan dukungan dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan. Ibu melihat bayi memiliki minat untuk menyusu, rasa kasih sayang antara ibu dan bayi terjalin sehingga ibu tergerak untuk memberikan air susunya kepada bayi. Tentunya bagi ibu bekerja apabila hal ini mendapat dukungan dari tempatnya bekerja, relaktasi ataupun induksi laktasi akan berhasil dilakukan.
  • Pengalaman laktasi sebelumnya. Ibu yang memiliki pengalaman laktasi sebelumnya tidak terlalu mempengaruhi kemampuan relaktasinya. Nemba menemukan 11 dari 12 ibu yang belum pernah menyusui mampu melakukan laktasi dalam 5-13 hari setelah mengikuti protokol induksi laktasi. Seema melaporkan tidak terdapat perbedaan keberhasilan relaktasi antar ibu yang baru memiliki anak satu dibandingkan dengan ibu yang sudah memiliki anak lebih dari satu orang.
Tips-tips untuk melakukan relaktasi
  1. Evaluasi kembali apa yang menjadi motivasi ibu untuk melakukan relaktasi. Siapkan mental ibu dan cari dukungan terutama dari keluarga terdekat (suami, orangtua atau teman dekat). Dibutuhkan kesabaran yang tinggi karena seringkali memerlukan waktu yang lama sehingga ibu merasa putus asa dan membutuhkan dukungan.
  2. Berkunjung ke klinik laktasi untuk bertemu dengan konsultan laktasi. Dibutuhkan arahan dan dukungan dari konsultan laktasi mengenai tehnik dan posisi menyusui yang baik dan benar.
  3. Sangat dianjurkan untuk sering melakukan kontak kulit dengan bayi (skin-to-skin contact) pada saat bayi tidak menyusu antara lain dengan melakukan metode kanguru, dimana bayi selalu berada di dada ibu. Tidurlah bersama bayi pada siang maupun malam hari, dekap dan gendonglah bayi sesering mungkin. Sebisa mungkin seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bayi dapat dikerjakan oleh ibu sendiri, baik memandikan bayi, mengganti popok, ataupun mengajak bayi bermain.
  4. Bila bayi mau menyusu: Susuilah bayi sesering mungkin setiap 1-  jam, paling tidak 8-12 kali dalam 24 jam.
    - Gunakan ke-2 payudara, minimal 10-15 menit pada setiap
    payudara pada satu kesempatan menyusui
    - Pastikan posisi dan pelekatan bayi pada payudara adalah baik
    - Monitor asupan bayi cukup atau tidak dengan memantau buang air kecil bayi, minimal 6 kali atau lebih dalam sehari
    - Jangan mengunakan botol susu ataupun dot bayi. Metode finger feding (memasukkan jari tangan ibu yang bersih sampai menyentuh langit-langit mulut bayi) bisa digunakan untuk meningkatkan refleks menghisap bayi
    - Pada awal kegiatan dibutuhkan suplemen, baik ASI donor ataupun susu formula, dengan menggunakan alat bantu berupa pemakaian pipa nasogastrik yang dihubungkan ke cangkir atau semprit, dimana sisi yang satu lagi di tempelkan pada payudara. Ibu dapat mengontrol pengaliran cairan dengan menaikkan atau merendahkan cangkir atau semprit saat bayi menyusu pada payudara ibu. Metode drip drop dengan menggunakan cangkir berisi suplemen atau dengan semprit yang diteteskan di payudara saat bayi menyusu merupakan salah satu metode yang sering digunakan, demikian pula dengan alat bantu laktasi lain seperti Lact-Aid Nursing Trainer System® (Lact- id International) Supplemental Nursing System® (Medela) juga dapat digunakan.
  5. Bila bayi tidak mau menyusu:
    - Pastikan bayi dalam keadaan sehat
    - Tingkatkan kontak kulit dengan bayi, mungkin dengan mengunakan metode kanguru
    - Lakukan pemijatan payudara lalu perah ASI selama 20-30 menit, 8-12 x/hari
    - Lebih sering memberikan payudara pada bayi walaupun bayi tidak mau menyusu dan gunakan alat bantu untuk memberikan suplemen, baik ASI donor ataupun susu formula
    - Jangan menggunakan botol susu ataupun dot bayi
  6. Monitor asupan bayi dengan memantau urin bayi, minimal 6 kali atau lebih dalam sehari
  7. Lakukan laktasi pada saat ibu dan bayi dalam keadaan tenang dan rileks. Jangan memaksa bayi untuk menyusu. Jika bayi menolak menyusu tentunya hal ini akan mengganggu proses relaktasi. Tunda hingga kondisi nyaman untuk ibu dan bayi.
  8. Tingkatkan konsumsi makanan ibu dengan diet yang sehat dan seimbang.
  9. Penggunaan obat-obatan yang dapat membantu stimulasi produksi ASI (lactogogues/galactogogue) mungkin diperlukan bagi mereka yang tidak berhasil melakukan relaktasi ataupun induksi dengan panduan tersebut di atas.
  10. Monitoring asupan bayi:
    Timbanglah bayi setiap minggu, minimal kenaikkan berat badan bayi berusia kurang dari 9 bulan adalah 125 gram/minggu atau 500 gram/bulan
    - Monitor urin dan feses bayi. Frekuensi urin 6 kali atau lebih dalam sehari, tidak pekat ataupun bau. Dalam 4 minggu pertama, bayi mengeluarkan feses lembik cenderung cair warna kuning kecoklatan, beberapa kali dalam sehari. Selanjutnya frekuensi buang air besar akan berkurang sekali sehari sampai 7-10 hari sekali. Konsistensi dan warna feses akan berubah bila bayi telah mendapat makanan pendamping ASI.
    - Bayi yang bangun setiap 2-3 jam, menyusu dengan lahap dan terlihat aktif berinteraksi sosial sesuai dengan usianya, dapat menjadi panduan akan kecukupan asupan yang diterimanya.
  11. Jumlah suplemen yang dibutuhkan bayi dan pengurangan suplemen saat relaktasi atau induksi laktasi dilakukan
    - Timbanglah bayi dan berilah suplemen yang direkomendasikan (ASI donor atau susu formula) 150 ml/kg BB/hari dengan alat bantu
    - Bila produksi ASI meningkat, kurangi sebanyak 50 ml setiap beberapa hari dengan memantau berat badan bayi tiap minggu sesuai penjelasan di atas. Pengurangan dilakukan pada jumlah suplemen bukan pada kekentalannya Pengurangan sejumlah 50 ml tersebut dapat dilakukan diantara beberapa kesempatan, misalnya kurangi pada 2 kali kesempatan menyusu dengan 25 ml perkali atau kurangi 5 kali kesempatan menyusu dengan 10 ml perkali
    - Lanjutkan jumlah yang ada setelah pengurangan tersebut untuk beberapa hari
    - Bila bayi menunjukkan asupannya cukup(urin 6 kali atau lebih, tidak pekat atau bau, dan penambahan berat badan 125 gram atau lebih) kurangi lagi jumlah suplemen yang diberikan
    - Bila bayi menunjukkan asupan kurang, pertahankan jumlah yang ada dalam 1 minggu lagi
    - Bila bayi tetap menunjukkan asupan yang kurang tambahkan lagi 50 ml dari jumlah suplemen terakhir yang telah diberikan
Tips-tips untuk melakukan induksi laktasi
  1. Selain-hal tersebut di atas yang telah dijelaskan, wanita yang akan mengadopsi bayi disarankan untuk memijat payudara dan memerah setiap 3 jam dan sekali pada malam hari selama 10-15 menit setiap kali dalam 3-6 bulan sebelum bayi datang. Berbeda dengan wanita yang hamil dan melahirkan, ibu yang akan mengadopsi anak dan belum pernah hamil, tidak memiliki kesempatan mengalami 9 bulan perubahan hormonal tubuhnya dalam menyiapkan diri untuk laktasi, sehingga hisapan bayi ataupun pemerahan payudara sangat diperlukan untuk kesiapan melakukan dan mempertahankan laktasi. Sering kali obat obat yang mengandung hormal diperlukan untuk mengatasinya
  2. Pemerahan ASI dengan menggunakan 2 pompa listrik pada ke-2 payudara pada satu kesempatan sangat dianjurkan
  3. Kesehatan dan kesejahteraan bayi adalah yang diutamakan. Pertumbuhan dan perkembangan bayi sesuai usia dan jenis kelamin harus dipantau secara teratur. Kunjungan teratur ke dokter anak harus dilakukan untuk pemantauan ini.
  4. Frekuensi dan lama menyusu bayi serta usia mulai diberikan makanan pendamping bayi adalah sama seperti bayi yang lain.
  5. Karena ibu yang mengadopsi bayi kemungkinan tidak dapat, memproduksi cukup ASI, dukungan dan pendampingan ibu sangat dibutuhkan untuk keberhasilan induksi laktasi. Anjurkan ibu untuk menemui kelompok pendukung ASI yang ada di daerah tempat tinggal ibu.

ASUPAN GIZI PADA IBU HAMIL


* Kebutuhan Gizi Trimester Pertama

Pada usia kehamilan 1-12 minggu ini, calon ibu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kalori yang mencapai 200 kilo kalori (kkal) per hari. Pasalnya, di masa ini janin berkembang pesat sehingga butuh kecukupan energi. Calon ibu disarankan mengonsumsi sumber karbohidrat seperti nasi, roti, mie, pasta, ditambah dengan daging, ikan, sayuran, buah, serta susu dan produk olahannya.

Umumnya memasuki minggu kelima, calon ibu mengalami morning sickness berupa mual dan muntah. Agar kebutuhan asupan makanan bergizi tetap pernuhi, pastikan mengonsumsi makanan dengan porsi yang sedikit tapi sering. Selain itu, sajikan makanan dengan kondisi hangat dan segar. Selanjutnya, pada minggu ke-7 kebutuhan kalsium perlu diperhatikan demi menunjang pembentukan tulang kerangka tubuh janin yang sedang berlangsung. Asupan kalsium yang dibutuhkan sebanyak 1000 miligram per hari bisa diperoleh dari keju, yoghurt dan susu.

Selain itu, penuhi kebutuhan asam folat sebanyak 0,6 miligram per hari yang bisa didapat dari telur, brokoli, hati, produk whole grain, jeruk untuk pembentukan jaringan tubuh janin, penyerapan zat besi, dan mencegah preeklampsia. Kemudian, perbanyak protein untuk mendapat asam amino bagi pembentukan otak janin, serta kolin dan DHA untuk membentuk sel otak baru. Sumber kolin di antaranya roti gandum, telur, daging sapi, kacang-kacangan dan susu, sedangkan sumber DHA seperti ikan, kuning telur, daging serta produk unggas.

Calon ibu juga perlu mencukupi kebutuhan vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B3, dan B6, untuk membantu proses tumbuh-kembang janin, vitamin B12 untuk membentuk sel darah baru, vitamin C untuk penyerapan zat besi, vitamin D untuk pembentukan tulang dan gigi, dan vitamin E untuk metabolisme. Begitu pula kebutuhan zat besi untuk memproduksi sel darah merah.

* Kebutuhan Gizi Trimester Kedua

Pada usia kehamilan minggu ke 13-28 ini, kebutuhan gizi semakin meningkat seiring banyaknya kemajuan dan perkembangan janin dan calon ibu. Pada usia ini, diharapkan calon ibu menambah asupan sekitar 300 kalori per hari untuk tambahan energi yang dibutuhkan untuk tumbuh-kembang janin. Upayakan mengonsumsi camilan yang sehat 3-4 kali sehari dengan porsi sedang. Hindari kafein, misalnya kopi, karena dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pusat janin yang sedang berkembang.   

Pada minggu ke-17, umumnya calon ibu mengalami sembelit. Cegah hal ini denagn makan sayur dan buah. Begitu juga pastikan minum  setidaknya 8 gelas per hari untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang meningkat. Di masa ini, jantung jantung dan sistem peredaran darah janin sedang berkembang sehingga pastikan asupan zat besi dan vitamin C untuk mengoptimalkan pembentukan sel darah merah baru. Caranya dengan mengonsumsi kuning telur, ayam, daging, bayam dan lainnya.

Hindari risiko kaki bengkak serta tekanan darah tinggi dengan membatasi konsumsi garam. Pada minggu ke-23 pembentukkan otak  meningkat sehingga tak salah bila calon ibu mengonsumsi seafood untuk memenuhi asupan asam lemak omega-3.

* Kebutuhan Gizi Trimester Ketiga

Calon ibu perlu mendapat energi yang mencukupi terutama untuk persiapan melahirkan. Asupan nutrisi berkualitas akan menjamin ibu tak mengalami kekurangan gizi. Pastikan kebutuhan kalori terpenuhi dengan konsumsi karbohidrat dan lemak yang memadai. Misalnya, karbohidrat didapat dari serelia (padi-padian) dan produk olahannya, kentang, gula, kacang-kacangan, biji-bijian dan susu. Lemak didapat dari mentega, susu, telur, daging berlemak, alpukat dan minyak nabati.

FRAKTUR

DEFINISI
Fracture is abreak in the continuity of bone and is defined according to its type and extent. (Brunner &Suddarth, 2008)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang terjadi karena adanya tekanan pada tulang yang melebihi absorpsi tulang (Black, 1997)
ETIOLOGI
1.       Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu
2.       Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan
3.       Proses penyakit: kanker dan riketsia
4.       Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakan
5.       Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani)
KLASIFIKASI
1. Berdasarkan garis fraktur
a. Fraktur komplit
Garis patanya melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang
b. Fraktur inkomplit
Garis patahnya tidak melalui seluruh penampang tulang
–       Greenstick fracture: bila menegenai satu korteks dimana korteks tulangnya sebagian masih utuh juga periosteum akan segera sembuh dan segera mengalami remodeling kebentuk normal
2. Fraktur menurut jumlah dan garis patah/bentuk/konfigurasi
a.       Fraktur comminute: banyak fraktur/fragmen kecil tulang yang terlepas
b.       Fraktur segmental: bila garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk sembuh dan keadaan ini perlu terapi bedah
c.       Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya. Seperti fraktur femur, cruris dan vertebra.
3. Fraktur menurut posisi fragmen
a.       Fraktur undisplaced (tidak bergeser): garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.
b.       Fraktur displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang disebut juga dislokasi fragmen.
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar
a. Fraktur terbuka (open fracture/compoun frakture)
Fraktur terbuka karena integritas kulit robek/terbuka dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit.
Fraktur terbuka ini dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkat keperahan:
–       Derajat I: robekan kulit kurang dari 1 cm dengan kerusakan kulit/jaringan minimal.
–       Derajat II: luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan sedang, potensial infeksi lebih besar, fraktur merobek kulit dan otot.
–       Derajat III: kerusakan/robekan lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan jaringan otot, saraf dan tendon, kontaminasi sangat besar dan harus segera diatasi
b. Fraktur tertutup (closed fracture/simple fracture)
Frakture tidak kompkleks, integritas kulit masih utuh, tidak ada gambaran tulang yang keluar dari kulit.
5. Fraktur bentuk fragmen dan hubungan dengan mekanisme trauma
a.       Fraktur transversal (melintang), trauma langsung
Garis fraktur tegak lurud, segmen tulang yang patah direposisi/direduksi kembali ketempat semula, segmen akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.
b.       Fraktur oblique; trauma angulasi
Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
c.       Fraktur spiral; trauma rotasi
Fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstrimitas, menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak dan cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar.
d.       Fraktur kompresi; trauma axial flexi pada tulang spongiosa
Fraktur terjadi karena ketika dua tulang menumpuk tulang ketiga yang berada diantaranya seperti satu vertebra dengan dua vertebra lainnya.
e.       Fraktur avulsi; taruma akibat tarikan (fraktur patela)
Fraktur memisahkan suatu fragmen tulang tempat insersi tendon atau ligamen.
6. Fraktur patologi
Terjadi pada daerah yang menjadi lemah oleh karena tumor atau prose patologik lainnya.



MANIFESTASI KLINIK
–       Edema/pembengkakan
–       Nyeri: spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma langsung pada jaringan, peningkatan tekanan pada saraf sensori, pergerakan pada daerah fraktur.
–       Spasme otot: respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur
–       Deformitas
–       Echimosis: ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan
–       Kehilangan fungsi
–       Crepitasi: pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma terbuka
TAHAP PENYEMBUHAN TULANG
1.       Tahap pembentukan hematom
dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk kearea fraktur. Suplai darah meningkat, terbentuklah hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima.
2.       Tahap proliferasi
dalam waktu sekitar 5 hari , hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menhasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan.
3.       Tahap pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar frakmen  tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus
4.       Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan.
5.       Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan)
Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Dengan aktifitas osteoblas dan osteoclas, kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya.
PRINSIP-PRINSIP PENATALAKSANAAN
Ada empat konsep dasar yang harus diperhatikan/pertimbangkan pada waktu menangani fraktur:
1.       Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.
–       Riwayat kecelakaan
–       Parah tidaknya luka
–       Diskripsi kejadian oleh pasien
–       Menentukan kemungkinan tulang yang patah
–       krepitus
2.       Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu:
–       Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips
–       Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.
3.       Immobilisasi:Setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi untuk membantu tulang pada posisi yang benar hingga menyambung kembali.
4.       Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)
5.       Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cidera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck).
TINDAKAN PEMBEDAHAN
1.       ORIF (OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION)
–       Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur
–       Fraktur diperiksa dan diteliti
–       Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka
–       Fraktur di reposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali
–       Saesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa; pin, sekrup, plate, dan paku
Keuntungan:
–       Reduksi akurat
–       Stabilitas reduksi tinggi
–       Pemeriksaan struktu neurovaskuler
–       Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal
–       Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat
–       Rawat inap lebih singkat
–       Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal
Kerugian
–       Kemungkinan terjadi infeksi
–       Osteomielitis
2.       EKSTERNAL FIKSASI
–       Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama
–       Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips.
–       Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang
–       Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya.
–       Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:
Obsevasi letak pen dan area
Observasi kemerahan, basah dan rembes
Observasi status neurovaskuler distal fraktur
TEST DIAGNOSTIK
–       X Ray: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
–       Scan tulang: menidentifikasi kerusakan jaringan lunak
–       Hitung darah lengkap:
Ht: mungkin meningkayt (hemokonsentrasi), menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma multiple)
Peningkatan SDP: respon stres normal setelah trauma
–       Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
–       Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah atau cedera hati
KOMPLIKASI
1. Komplikasi awal
–       Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan & kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock hipovolemi.
–       Emboli lemak

–       Trombo emboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest
–       Infeksi
Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik
2. Komplikasi lambat
–       Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang
–       Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini disebabkan oleh fobrous union atau pseudoarthrosis
–       Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk)
–       Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang .

PERAWATAN LUKA

Perawatan Luka adalah suatu teknik aseptik yang bertujuan membersihkan luka dari debris untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Penyembuhan Luka Primer (First Intention)
Dikatakan Penyembuhan luka Primer apabila fase penyembuhan luka berjalan cepat, disebabkan tidak adanya benda asing, tidak terjadi infeksi pada luka tersebut.
Penyembuhan Luka Sekunder (Second Intention)
Dikatakan Penyembuhan luka Sekunder apabila fase kesembuhan berjalan lama karena luka terlalu lebar, ada benda asing atau infeksi, sehingga luka akan ditutup dengan jaringan granulasi.
Teknik Perawatan Luka
Desinfeksi, Pembersihan Luka (Wound Toilet), Debridement (Wound Excision), Perawatan Perdarahan, Penjahitan lukaTutup, Angkat Jahitan
Prinsip-prinsip Perawatan Luka
Ada dua prinsip utama dalam perawatan luka. Prinsip pertama menyangkut pembersihan/pencucian luka. Luka kering (tidak mengeluarkan cairan) dibersihkan dengan teknik swabbing, yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan menggunakan kasa steril atau kain bersih yang dibasahi dengan air steril atau NaCl 0,9 %.
Sedang luka basah dan mudah berdarah dibersihkan dengan teknik irrigasi, yaitu disemprot lembut dengan air steril (kalau tidak ada bisa diganti air matang) atau NaCl 0,9 %. Jika memungkinkan bisa direndam selama 10 menit dalam larutan kalium permanganat (PK) 1:10.000 (1 gram bubuk PK dilarutkan dalam 10 liter air), atau dikompres larutan kalium permanganat 1:10.000 atau rivanol 1:1000 menggunakan kain kasa.
Cairan antiseptik sebaiknya tidak digunakan, kecuali jika terdapat infeksi, karena dapat merusak fibriblast yang sangat penting dalam proses penyembuhan luka, menimbulkan alergi, bahkan menimbulkan luka di kulit sekitarnya. Jika dibutuhkan antiseptik, yang cukup aman adalah feracrylum 1% karena tidak menimbulkan bekas warna, bau, dan tidak menimbulkan reaksi alergi.
Penatalaksanaan
Antisepsis sekitar luka
Cuci dengan betadine
Pada fraktur terbuka : cuci dengan NaCl 0,9%
Antisepsis luka
Untuk luka kotor : cuci dengan H2O2 (perhidrol) kemudian NaCl 0,9%
Untuk fraktur terbuka : cuci dengan NaCI 0,9%
Untuk luka bersih : cuci
Selanjutnya beri betadine -> untuk semua jenis luka
Hecthing (Jahit) kalau memang diperlukan
Perhatikan :
luka dengan fraktur/ruptur tendon jangan dijahit, tetapi dicuci dengan NaCl 0,9% -> tutup dengan kasa steril, bila ada perdarahan -> ditampon / verban -> rujuk ke RSUD.
Pengobatan
Bila luka kotor/lebar/dalam beri ATS 1.500 IU (tes dulu) atau TT 0,5 ml
Inj. PP (tes dulu) atau inj Ampisilin 4×500mg-1gr per hari
Amoksisilin 3-4×500 mg
Analgesik -> jika perlu
Catatan Penting
Luka lecet cukup diolesi betadine tanpa ditutup, tanpa ATS, tanpa AB
Luka kecil yang hanya membutuhkan 1 jahitan boleh tanpa anestesi
Anestesi lokal diberikan sebelum luka dibersihkan, untuk mengurangi rasa sakit
Luka pada kepala, cukur dulu sekitar luka sebelum dijahit. Jahitan pada kepala dapat diangkat pada hari kelima atau kurang
Luka yang cukup dalam harus dijahit berlapis, bagian dalam memakai cut gat dan bagian luar memakai silk
Luka yang cukup panjang, jahitan sebaiknya mulai dari tengah
Luka berbentuk V, sudut dasar V dijahit terdahulu
Luka yang banyak mengeluarkan darah, terlebih dahulu klem dan jahit yang rapat pada sumber darah. Jika darah berhenti -> jahitan dilanjutkan.
Setelah selesai dijahit ternyata masih merembes -> bongkar -> Jahit ulang -> bekas jahitan didep agak kuat. Jika masih merembes -> rujuk ke RSUD
Pada kondisi terputusnya pembuluh darah besar -> klem/dep/ tampon yang kuat dengan kasa steril -> rujuk ke RSUD dengan infus terpasang
Selesai menjahit, dengan pinset sirurgi tepi kulit dibuat ektropion (membuka keluar)
Kontrol sebaiknya pada hari 3-4 setelah dijahit -> angkat jahitan pada hari ke 6-7
Pada luka yang terlalu panjang atau terjadi infeksi -> jahitan diangkat selang-seling (tidak sekaligus)
Pada waktu mengangkat jahitan, benang yang dipotong yaitu pada ujung yang berlawanan dengan simpul (untuk menghindari benang bagian luar ikut menyusup ke dalam)
Kalau pada jahitan terdapat PUS -> buka -> bersihkan, kompres dengan Revanol 2 kali sehari Tidak semua luka perlu ATS -> lihat kriteria di atas
Prosedur Pemasangan Infus by Aprisal Darwis | 4/05/2014 A. Pengertian Pemasangan Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh B. Tujuan pemasangan infus Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang menganung air, elektrolit, vitamin, protein lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui oral Memperbaiki keseimbangan asam basa Memperbaiki volume komponen-komponen darah Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh Memonitor tekan Vena Central (CVP) Memberikan nutrisi pada saat system pencernaan di istirahatkan. C. Indikasi pemasangan infus Keadaan emergency (misal pada tindakan RJP), yang memungkinkan pemberian obat langsung ke dalam Intra Vena Untuk memberikan respon yang cepat terhadap pemberian obat (seperti furosemid, digoxin) Pasien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui Intra vena Pasien yang membutuhkan pencegahan gangguan cairan dan elektrolit Pasien yang mendapatkan tranfusi darah Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat) Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan dengan injeksi intramuskuler. D. Kontraindikasi Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah). Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki). E. Persiapan Alat Standar infuse Set infuse Cairan sesuai program medic Jarum infuse dengan ukuran yang sesuai Pengalas Torniket Kapas alcohol Plester Gunting Kasa steril Betadin Sarung tangan F. Prosedur kerja: Jelaskan prosedur yang akan dilakukan Pemasangan infus | dok. Aristianto Cuci tangan Hubungkan cairan dan infus set dengan memasukkan ke bagian karet atau akses selang ke botol infuse Isi cairan ke dalam set infus dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian dan buka klem slang hingga cairan memenuhi selang dan udara selang keluar Letakkan pangalas di bawah tempat ( vena ) yang akan dilakukan penginfusan Lakukan pembendungan dengan torniker ( karet pembendung ) 10-12 cmdi atas tempat penusukan dan anjurkan pasien untuk menggenggam dengan gerakan sirkular ( bila sadar ) Gunakan sarung tangan steril Disinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alcohol Lakukan penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari di bagian bawah vena da posisi jarum ( abocath ) mengarah ke atas Perhatikan keluarnya darah melalui jarum ( abocath / surflo ) maka tarik keluar bagian dalam ( jarum ) sambil meneruskan tusukan ke dalam vena Setelah jarum infus bagian dalam dilepaskan atau dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar. Kemudian bagian infus dihubungkan atau disambungkan dengan slang infuse Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan Lakukan fiksasi dengan kasa steril Tuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta catat ukuran jarum Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan G. Dokumentasi Pendokumentasian keperawatan harus jelas : waktu pemasangan tipe cairan Tempat insersi (melalui IV) Kecepatan aliran (tetesan/menit) Respon klien setelah dilakukan tindakan pemasangan infuse Read more: http://www.abcmedika.com/2014/04/prosedur-pemasangan-infus.html#ixzz3bojbhV6X

Copyright © 2013-2014 ABC Medika | availabel at:http://www.abcmedika.com/2014/04/prosedur-pemasangan-infus.html
Thanks for Your visit

PEMERIKSAAN ABDOMEN

PEMERIKSAAN PALPASI DENGAN TEKNIK LEOPOLD

 A.    Mengaplikasikan konsep teori palpasi Teknik Leopold
Salah satu jenis pemeriksaan menggunakan sensasi taktil untuk menentukan cirri-ciri satu organ (Lukmanto dkk., 2006). Palpasi juga disebut periksa raba. Periksa raba abdomen pada wanita hamil dilakukan pada usia kehamilan 36 minggu untuk kehamilan normal dengan alasan pada usia kehamilan tersebut, janin sudah tumbuh optimal sehingga memenuhi seluruh rongga rahim. Organ-organ tubuh bayi sudah simetris, kepala sudah tumbuh dalam ukuran optimal dan merupakan bagian terberat dari seluruh organ tubuhnya. Dengan demikian, menurut hukum gravitasi bumi, benda yang terberat akan mencari posisi paling bawah. Pada saat ini kepala mulai turun masuk ke pintu atas panggul dan posisi janin sudah menetap di dalam rongga uterus sehingga tidak memungkinkan berubah posisi. Pemeriksaan dengan palpasi  sebelum 36 minggu tidak dilakukan karena letak, posisi, dan presentasi janin masih berubah-ubah. Selain itu, setiap pemeriksaan palpasi yang kita lakukan,  janin dalam kandungan  akan terganggu walaupun pemeriksaan sudah dilakukan secara cermat dan berhati-hati. Palpasi pada usia kehamilan 28 minggu dilakukan bila pada pemeriksaan McDonald, ditemukan tinggi fudus uteri lebih tinggi dari seharusnya.


 B.  Memenuhi tujuan dan  teknik palpasi Leopold
Tujuan pemeriksaan dengan teknik palpasi Leopold adalah mengetahui letak janin dan sebagai bahan pertimbangan dalam memperkirakan usia kehamilan. Secara terperinci tujuan palpasi Leopold untuk setiap langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut :
Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold I
Tujuan pemeriksaan :
a.       Mengetahui  tinggi fundus uterus untuk mempekirakn usia kehamilan.
b.      Menentukan bagian-bagian janin yang berbeda di fundus uteri.
Cara pemeriksaan :
      Sebelum diperiksa, ibu hamil dipersiapkan antara lain diberi tahumaksud dantujuan pemeriksaan. Pakaian dalam yang menghalangi pemeriksaan dibuka, pakaian luar dilonggarkan, dan bila ketat diganti dengan pakaian longgar untuk mempermudah pemeriksaan. Ibu hamil diperiksa dalam keadaan tidur terlentang, kedua lutut agak ditekuk. Pemeriksaan di seblah kanan ibu dengan posisi kaki kiri di depan dan kakin kanan di belakang menghadap ke wajah ibu.
       Suhu tangan pemeriksa disesuaikan dengan tangan ibu supaya uterus tidak berkontraksi saat dilakukan  palpasi dengan jalan : Bila cuaca dingin pemeriksa mencuci tangan dengan menggunakan air hangat, atau setelah mencuci tangan kedua telapak tangan dogosok-gosokan sampai terasa hangat.
      Mulai pemeriksaan dengan mendorong fundus uteri ke bagian tengah menggunakan tangan kiri, kemudian ditahan dengan tangan kanan dengan menggunakan jari-jari tangan kiri , tinggi fudus uteri diukur dari prosesus xifoideus sampai pusat . Akan diperoleh tinggi fudus uteri berapa jari berapa di bawah prosesus xifoideus. Bila fudus uteri mendekati  pusat,  tangan kiri pemeriksa menahan fudus uteri, tangan kanan mengukur tinggi fudus uteri mulai dari pusat. Berdasarkan pengukuran dari pemeriksaan palpasi diperkirakan usia kehamilan disesuaikan pula dengan hasil anamnesis hari pertama hair terakhir.
      Setelah tinggi fudus uteri diukur, dilanjutkan meraba bagian-bagian janin yang berada pada fudus uteri menggunakan tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian. Bila meraba dengan tangan kanan, tangan kiri menahan, demikian sebaliknya. Bila teraba bagian yang bulat, keras, dan bila ditekan terasa lentingan, merupakan pertanda dari kepala janin. Bila kepala janin berada pada fudus uteri, janin adalah persentasi bokong.
      Bila bagian yang besar,bulat, lunak dan tidak ditekan tidak terasa lentingan, merupakan pertanda dari bokong janin. Bila bokong janin berada pada fudus uteri berarti janin presentasi kepala. Bila teraba bagian yang datar melebar adalah pertanda dari punggung janin. Bila punggung berada pada fudus uteri, berarti posisi janin melintan. Bila teraba bagian yang berbenjol-benjol kecil-kecil merupakan pertanda dari bagian-bagian kecil janin, seperti tangan dan kaki. Bila bagian-bagian kecil janin berada pada fundus uteri berarti janin juga posisinya melintang.
      Bila pada pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold I kita menemukan dua bagian besar janin, fudus uteri itu merupakan pertanda dari kehamilan  ganda/kembar. Misalnya, dua bagian yang bulat dank eras atau satu bagian yang bulat dank eras, dan satu bagian yang besar dan lunak, dan biasanya disertai dengan tinggi fudus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan apabila diperhitungkan berdasarkan hari pertama haid terakhir
 
Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold II
Tujuan pemeriksaan :
Mengetahui bagian-bagian janin yang berada pada bagian samping kanan dan samping kiri uterus.
Cara pemreiksaan:
Setelahmeraba bagian-bagian janin pada fundus uteri pada pemeriksaan Leopold I, tangan kiri dipindahkan ke bagian kanan uterus ibu, dan tangan kanan dipindahkan ke bagian kiri uterus ibu. Tangan kanan meraba bagian  janin yang ada di bagian samping kiri uterus, dan tangan kiri menahan uterus pada bagian samping kanan. Selanjutnya, tangan kiri meraba bagian janin yang berada di bagian samping kanan uterus ibu, dan tangan kanan menahan bagian samping kiri uterus ibu. Bila yang dirasakan bagian yang datar dan melebar adalah pertanda punggung janin, dan biladirasakan di bagian samping kiri uterus berarti posisi janin punggung kiri, sedangkan apabila dirasakan sebelah kanan berarti posisi janin punggung kanan. Sebaliknya, bila ditemukan di samping kiri uterus bagian yang bulat keras, mudah digerakan dan ada lentingan, sebagai pertanda kepala janin, dan di sebelah kanan ditemukan bagian yang besar, lunak, dan sulit digerakan, sebagai pertanda bokong janin, berarti posisi janin melintang dengan kepala di kiri. ADemikian sebaliknya.
 
Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold III
Tujuan pemeriksaan:
a.       Menentukan bagian tubuh janin yang berada pada bagian bawah uterus.
b.      Mengetahui apakah bagian tubuh janin yang berada pada bagian bawah uterus sudah atau belum masuk ke pintu atas punggul ibu.
Cara pemeriksaan:
      Setelah meraba samping kanan dan samping kiri uterus, tangan kiri dipindahkan ke fudus uteri, tangan kanan memegang bagian bawah uterus diantara tulang pipa iskiadika anterior superior dan batas uterus bagian bawah, kemudian menggoyangkan secara berlahan-lahan, apabila teraba keras, bila digoyangkan ada lentingan, pertanda bokong janin. Pada satu bagian terendah janin digoyangkan, terasa bergoyang, berarti bagian terendah janin belum masuk ke pintu atas panggul. Sebaliknya, apabila saat digoyangkan tidak terasa bergoyang berarti bagian terendah janin sudah masuk ke pintu atas panggul.
 
Teknik Pemeriksaan Palpasi  Leopold IV
Tujuan pemeriksaan:
a.       Memastikan apakah bagian terendah janin sudah benar-benar masuk ke pintu atas panggul atau belum.
b.      Menentukan seberapa banyak bagian terendah janin sudah memasuki ke pintu atas panggul.
  Cara pemeriksaan:
      Pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold IV apabila, dari hasil pemeriksaan Leopold III ditemukan bagian terendah janin sudah masuk ke pintu atas panggul, atau hasil pemeriksaan dengan teknik Leopold III masih ada keragu-raguan./ Untuk mengecek hasil pemeriksaan palpasi Leopold III.
      Setelah melakukan pemeriksaan palpasi dengan teknik Leopold III, pemeriksa mengubah posisi menghadap ke bagian kaki ibu, ibu diminta untuk meluruskan kakinya atau tidak menekuk lutut.Tangan kiri pemeriksa dipindahkan ke sebelah lateral kiri uterus ibu, dan tangan kanan dipindahkan kesebelah lateral kanan uterus ibu, ujung jari tangan kanan dan kiri berada pada tepi atas tulang simfisis pubis. Pertemukan kedua ibu jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan kiri. Apabila ibu jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan kiri dapat bertemu satu sama lain disebut konvergen, berarti bagian terendah jani belum masuk pintu atas panggul ibu. Apabila ibu  jari dan ujung-ujung jari tangan kanan dan tangan kiri tidak adapat dipertemukan disebut divergen, berarti sebagian besar bagian terendah janin sudah masuk ke  pintu rongga panggul ibu.
Pemeriksaan palpasi teknik Leopold dilaksanakan setelah melaksanakan pemeriksaan tinggi funfus uteri dengan teknik McDonald, pada usia kehamilan 36 minggu, atau pada usia kehamilan 28 minggu apabila hasil pemeriksaan rtinggi fudus uteri dengan teknik McDonald hasilnya lebih tinggi dari usia kehamilan berdasarkan data hari pertama haid terakhir (HPHT).

PERSALINAN NORMAL

Persalinan Normal adalah proses persalinan yang melalui kejadian secara alami dengan adanya kontraksi rahim ibu dan dilalui dengan pembukaan untuk mengeluarkan bayi. Dari Pengertian diatas Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi servik, lahirnya bayi dan plasenta dari rahim ibu. Persalinan Normal disebut juga alami karena terjadi secara alami. Jadi secara umum Persalinan Normal adalah proses persalinan yang melalui kejadian secara alami dengan adanya kontraksi rahim ibu dan dilalui dengan pembukaan untuk mengeluarkan bayi. Jika Persalinan Normal tidak termungkinkan karena masalah posisi bayi harus dilakukan bedah sesar. Pada saat Persalinan Normal, bayi dilahirkan melalui vagina.
Setelah Persalinan

Faktor

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Faktor-faktor yang terlibat dalam persalinan adalah :
1. Power
kontraksi dan retraksi otot-otot rahim plus kerja otot-otot volunteer dari ibu, yaitu kontraksi otot perut dan diafragma sewaktu ibu mengejan atau meneran
2. Passage
Merupakan bagian tulang panggul, servik , vagina dan dasar panggul (displacement )
3. Passenger
Terutama janin ( secara khusus bagian kepala janin ) plus plasenta, selaput dan cairan ketuban atau amnion.

Kala/Tahap

Proses persalinan normal terdiri dari 4 kala:
Kala 1 = Kala pembukaan leher rahim/cervix dari 0cm menjadi 10cm
Kala 2 = Kala persalinan dimana sang bayi dikeluarkan dari rahim/uterus
Kala 3 = Kala pengeluaran plasenta yaitu dilakukan kelahiran plasenta (normalnya keluar sendiri bbrp saat setelah keluarnya janin) dan berakhir pemotongan tali pusat bayi.
Kala 4 = 1 jam sejak pengeluaran plasenta, ibu diobservasi lagi untuk melihat apabila ada perdarahan dll.
Persiapan Persalianan

Mekanisme

1)        Pengertian
Denominator atau petunjuk adalah kedudukan dari salah satu bagian dari bagian depan janin terhadap jalan lahir.
Hipomoklion adalah titik putar atau pusat pemutaran.
2)        Mekanisme persalinan letak belakang kepala
a.  Engagement (fiksasi) = masuk
Ialah masuknya kepala dengan lingkaran terbesar (diameter Biparietal) melalui PAP. Pada primigravida kepala janin mulai turun pada umur kehamilan kira – kira 36 minggu, sedangkan pada multigravida pada kira – kira 38 minggu, kadang – kadang baru pada permulaan partus. (Wiknjosastro, 2005, h.129). Engagement lengkap terjadi bila kepala sudah mencapai Hodge III. Bila engagement sudah terjadi maka kepala tidak dapat berubah posisi lagi, sehingga posisinya seolah – olah terfixer di dalam panggul, oleh karena itu engagement sering juga disebut fiksasi. Pada kepala masuk PAP, maka kepala dalam posisi melintang dengan sutura sagitalis melintang sesuai dengan bentuk yang bulat lonjong..
Seharusnya pada waktu kepala masuk PAP, sutura sagitalis akan tetap berada di tengah yang disebut Synclitismus. Tetapi kenyataannya, sutura sagitalis dapat bergeser kedepan atau kebelakang disebut Asynclitismus.
Asynclitismus dibagi 2 jenis :
-          Asynclitismus anterior : naegele obliquity yaitu bila sutura sagitalis bergeser mendekati promontorium.
-          Asynclitismus posterior : litzman obliquity yaitu bila sutura sagitalis mendekati symphisis.
b.     Descensus = penurunan
Ialah penurunan kepala lebih lanjut kedalam panggul. Faktor – factor yng mempengaruhi descensus : tekanan air ketuban, dorongan angsung fundus uteri padabokong janin, kontraksi otot – otot abdomen, ekstensi badan janin.
c.        Fleksi
Ialah menekannya kepala dimana dagu mendekati sternum sehingga lingkaran kepala menjadi mengecil à suboksipito bregmatikus ( 9,5 cm). Fleksi terjadi pada waktu kepala terdorong His kebawah kemudian menemui jalan lahir. Pada waktu kepala tertahan jalan lahir, sedangkan dari atas mendapat dorongan, maka kepala bergerak menekan kebawah.
d.      Putaran Paksi Dalam (internal rotation)
Ialah berputarnya oksiput ke arah depan, sehingga ubun -ubun kecil berada di bawah symphisis (HIII). Faktor-faktor yang mempengaruhi : perubahan arah bidang PAP dan PBP, bentuk jalan lahir yang melengkung, kepala yang bulatdan lonjong.
e.        Defleksi
Ialah mekanisme lahirnya kepala lewat perineum. Faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini ialah : lengkungan panggul sebelah depan lebih pendek dari pada yang belakang. Pada waktu defleksi, maka kepala akan berputar ke atas dengan suboksiput sebagai titik putar (hypomochlion) dibawah symphisis sehingga berturut – turut lahir ubun – ubun besar, dahi, muka dan akhirnya dagu.
f.       Putaran paksi luar (external rotation)
Ialah berputarnya kepala menyesuaikankembali dengan sumbu badan (arahnya sesuai dengan punggung bayi).

Tanda - Tanda Persalinan Normal

Tanda persalinan dikategorikan sebagai tanda kemungkinan, tanda awal dan tanda positif. Kategori ini membantu memutuskan kapan ibu benar-benar mengalami persalinan. Perhatikan bahwa tidak semua tanda ini mungkin di alami dan bahwa tanda-tanda tersebut tidak harus terjadi berurutan.
a)     Tanda Kemungkinan Persalinan
Tanda kemungkinan persalinan adalah bisa atau tidak menjadi awal dari persalinan, waktu akan menentukan.
1)     Sakit pinggang
Nyeri yang merasa, ringan, mengganggu dapat hilang timbul dapat disebabkan oleh kontraksi dini.
2)     Kram pada perutbagian bawah
Seperti kram menstruasi, dapat disertai rasa nyaman di paha. Dapat terus menerus atau terputus.
3)     Tinja yang lunak
Buang air beberapa kali dalam beberapa jam, dapat disertai dengan kram perut atau gangguan pencernaan
4)     Desakan untuk bebenah
Lonjakan energi yang mendadak menyebabkan anda banyak melakukan aktivitas ekstra ini sebagai tanda bahwa mempunyai kekuatan dan stamina untuk menjalani persalinan, cobalah menghindari aktifitas yang melelahkan.
b)     Tanda Awal Persalinan
1)     Kontraksi yang tidak berkembang
Kontraksi cenderung mempunyai panjang kekuatan dan frekuensi yang sama. Kontraksi pra persalinan ini dapat berlangsung singkat atau terus menerus selama beberapa jam sebelum berhenti atau terus menerus selama beberapa jam sebelum berhenti atau mulai berkembang.
Menyebabkan pelunakan dan penipisan dari leher rahim, meskipun sebagian besar pembukaan belum terjadi sampai nanti anda mengalami tanda positif.
2)     Keluar darah
Aliran lendir yang bernoda darah dari vagina. Dikaitkan dengan penipisan dan pembukaan awal dari leher rahim, dapat berlangsung beberapa hari sebelum tanda lain atau baru muncul setelah kontraksi persalinan yang berkembang dimulai, berlanjut sepanjang persalinan.
3)     Rembesan cairan ketuban dari vagina
Disebabkan oleh robekan kecil pada membran (ROM). Kadang-kadang bila membran timbul selama berjam-jam atau berhari-hari.